Cara Modern Mengawetkan Bambu agar Tidak Lapuk

Proses pengawetan bambu secara modern bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan kekuatannya sehingga bambu tersebut pun menjadi lebih awet. Jika tidak diawetkan, bambu hanya mampu bertahan selama kurang lebih 3 tahun saja. Daya tahan bambu ini akan meningkat berkali-kali lipat setelah melalui tahap pengawetan. Kerusakan pada bambu sendiri biasanya disebabkan oleh hama perusak bambu. Hal dikarenakan bambu merupakan makanan alami bagi kumbang bubuk, rayap, cendawan, dan sebagainya. Bambu begitu disukai serangga karena mengandung zat glukosa yang cukup tinggi.

Pamor bambu kini kembali meningkat seiring dengan semakin populernya tren rumah tradisional alami di Indonesia. Mahalnya harga bahan-bahan bangunan untuk mendirikan rumah semisal kayu, batu bata, batako, dan beton juga mendorong beberapa orang untuk menggunakan material alternatif pembangun rumah seperti bambu. Di samping karena harganya yang terbilang cukup murah, bambu juga memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan bahan bangunan yang lain. Tapi sayangnya tingkat keawetan bambu tergolong rendah serta rentan mengalami kerusakan akibat air hujan dan cahaya matahari.

Pada zaman dahulu, orang-orang biasa mengawetkan bambu menggunakan cara yang masih tradisional. Meskipun terbukti ampuh dapat menaikkan tingkat kekokohan bambu tersebut, tetapi metode dianggap kurang layak apabila diaplikasikan di dalam perindustrian sebab prosesnya yang memakan waktu selama berbulan-bulan sehingga tidak sanggup memenuhi permintaan pasar yang begitu cepat. Oleh karena itu, teknik pengawetan bambu pun terus dikembangkan guna menciptakan metode baru yang lebih efektif dan efisien. Hingga kini sudah terdapat sekitar 4 metode pengawetan bambu secara modern.

Pada prinsipnya, proses pengawetan bambu secara modern ini dilaksanakan dengan menuangkan bahan pengawet ke dalam bambu. Tujuannya supaya cairan alami yang terkandung di dalam bambu terdesak keluar melalui pori-por yang dimilikinya. Cairan inilah yang menjadi alasan utama kenapa hama sampai mau repot merusak kayu. Hasilnya adalah kayu yang tidak mengandung cairan alami pun menjadi lebih awet dan juga aman. Semakin canggih metode yang dipakai untuk mengawetkan bambu, maka hasilnya pun akan semakin maksimal dan kadar air yang terkandung di dalam bambu semakin sedikit.

Berikut ini metode-metode yang dapat Anda lakukan untuk mengawetkan bambu. Anda mencobanya dengan menggunakan minyak solar dan boraks atapun melakukan treatment tertentu terhadap bambu tersebut. Selain itu, Anda juga bisa memanfaatkan mesin khusus untuk mengawetkan bambu yang telah berhasil diciptakan saat ini.

Menuangkan Minyak Solar

Salah satu teknik pengawetan bambu yang paling sederhana namun cukup modern yang biasa dilakukan oleh para perajin bambu ialah menggunakan solar. Solar ternyata sangat efektif loh untuk mengawetkan bambu. Cara menerapkannya pun mudah sekali. Pertama, bambu segar yang baru ditebang diletakkan dengan posisi yang berdiri dan terbalik. Kedua, tuangkanlah solar ini melalui lubang bambu pada bagian yang paling atas. Ketiga, biarkan solar meresap ke dalam seluruh pori-pori bambu selama 3-5 hari. Selain solar, Anda juga bisa memanfaatkan oli bekas ataupun minyak tanah.

Merendam di Dalam Boraks

Boraks dikenal sebagai salah satu bahan kimia yang berfungsi untuk mengawetkan suatu bahan. Siapa sangka jika boraks pun ternyata juga bisa digunakan untuk mengawetkan bambu? Perendaman batang-batang bambu ke dalam cairan boraks terbukti efektif loh dalam meningkatkan daya tahannya. Lamanya waktu yang diperlukan dalam proses perendaman bambu yang sedang diawetkan ini tergantung jenis bambu tersebut dan tipe boraks yang Anda pakai. Jika Anda mengalami kesulitan dalam mendapatkan boraks, Anda bisa menggantinya dengan arsenik, boric, antiboriks, dan sebagainya.

Brine Treatment Method

Pekerjaan brine treatment method pada dasarnya dilakukan dengan memaksa bambu untuk menyerap zat pengawet seperti boraks, boric, CCB, CCA, atau ter ke dalam pori-porinya. Caranya yaitu potonglah bagian bawah batang bambu cukup setinggi 5-10 cm dari bagian akarnya. Lalu masukkan bagian bawah batang bambu tersebut ke dalam wadah yang telah berisi cairan pengawet. Ingat, jangan buang ranting dan daunnya agar proses metabolisme bambu terus berlangsung. Walau mudah dikerjakan dan mampu memberikan hasil yang bagus, tetapi sayangnya hasil brine treatment method ini dinilai belum efektif karena kapasitas produksinya terbatas serta memakan waktu produksi yang cukup lama.

Boucherie Method

Pengawetan bambu memakai boucherie method dilaksanakan dengan memanfaatkan bantuan mesin khusus yang disebut boucherie machine. Cara menggunakan mesin ini gampang sekali sebenarnya sih. Mulailah dengan memasukkan potongan-potongan bambu ke dalam mesin boucherie. Kemudian alirkan pula cairan pengawet melalui lubang khusus menggunakan tekanan tertentu sesuai rekomendasi pabrik. Gunakan pompa kedap udara untuk mempercepat proses pengaliran cairan pengawetnya. Metode ini dianggap selesai manakala konsentrasi cairan yang keluar dari bambu sama dengan konsentrasi bahan pengawet yang dimasukkan ke dalamnya.

Tanpa melalui proses pengawetan secara khusus, konstruksi bangunan yang terbuat dari bahan bambu umumnya hanya mampu bertahan sekitar 3-5 tahun saja. Sedangkan dengan menerapkan teknik-teknik pengawetan di atas secara benar, daya tahan struktur bambu tersebut sanggup meningkat tajam hingga mencapai puluhan tahun lamnya. Namun dengan catatan hindarkanlah bambu dari ini kontak langsung terhadap tanah, khususnya tanah yang mempunyai tingkat kelembaban yang cukup tinggi. Agar bambu lebih terlindungi, kuaskan pula cairan pernis ke seluruh permukaan bambu tersebut setiap setahun sekali.