Mengenal Sloof dan Tie Beam Beserta Perbedaannya

Tahukah Anda, terdapat istilah upper structure dan juga sub structure di dalam dunia konstruksi. Upper structure ialah struktur yang terletak di bagian atas. Sedangkan sub structure merupakan struktur yang posisinya berada di bagian bawah. Upper structure dan sub structure ini harus dibuat sebaik mungkin. Contoh struktur bangunan yang termasuk dalam golongan sub structure yaitu sloof dan tie beam. Kedua struktur ini disebut sub structure/struktur bawah karena memang letaknya berada di bawah permukaan tanah atau bersentuhan langsung dengan permukaan tanah.

Pada dasarnya, sloof mempunyai wujud yang sama persis seperti tie beam. Baik sloof maupun tie beam, sama-sama merupakan balok yang diletakkan secara horizontal. Sloof atau tie beam adalah balok yang letaknya paling bawah dari balok-balok lainnya yang ada pada suatu konstruksi bangunan. Oleh karena itu, pekerja sering menyebutkan keduanya sama saja. Namun secara prinsip, sloof memiliki fungsi yang berbeda dengan tie beam. Kegunaan kedua struktur ini tidak sama. Sehingga secara otomatis membuat keduanya pun merupakan struktur yang berbeda.

Kali ini marilah kita mengenal lebih jauh tentang kedua struktur tersebut dan perbedaan-perbedaannya!

SLOOF

Sloof adalah struktur balok yang dibuat secara horizontal sepanjang pondasi. Pondasi ini terletak persis di atas pondasi dan mengikuti alurnya. Memang benar, kebanyakan sloof terbuat dari beton bertulang. Tetapi ada kalanya kita perlu menggunakan batu bata atau kayu sebagai bahan baku pembuatan sloof.

  • Konstruksi Sloof dari Beton Bertulang

Pembuatan konstruksi sloof dari beton bertulang bisa dibuat di atas pondasi batu kali, terutama jika konstruksi ini ditujukan untuk bangunan tidak bertingkat. Keberadaan sloof ini bisa didukung memakai kolom praktis pada jarak dinding 3 m. Konstruksi sloof dari beton bertulang ini dapat dibuat dengan ukuran tinggi dan lebar lebih dari 15-20 cm.

  • Konstruksi Sloof dari Batu Bata

Konstruksi sloof dari batu bata dikenal pula dengan sebutan rolag. Konstruksi ini terbuat dari susunan batu bata yang dipasang secara melintang, kemudian diikat memakai adukan pasangan. Anda dapat membuat adukan pasangan tersebut dengan mencampurkan 4 semen dan 1 pasir. Namun perlu diketahui, konstruksi rolag ini tak memenuhi syarat untuk membagi beban.

  • Konstruksi Sloof dari Kayu

Penerapan konstruksi sloof dari kayu paling cocok untuk rumah-rumah tradisional atau rumah yang dibuat dengan konsep non-permanen. Contohnya pada konstruksi rumah panggung yang menggunakan pondasi tiang kayu atau pondasi setempat. Selain itu, konstruksi sloof dari kayu ini juga bisa dimanfaatkan sebagai balok pengapit.

Di dalam sebuah konstruksi bangunan, sloof mempunyai peranan yang penting sekali. Fungsi utamanya yaitu meratakan gaya atau tekanan yang timbul akibat beban dari atas bangunan, lalu meneruskannya ke pondasi yang berada di bawahnya. Harapannya dengan keberadaan sloof ini, maka tidak terjadi kasus penurunan pada suatu tempat. Sehingga potensi timbulnya keretakan dinding di atas pondasi pun dapat diminimalisir. Selain itu, sloof juga berfungsi sebagai pengikat antar pondasi sehingga setiap pondasi bisa saling bekerjasama dan membantu saat terjadi penurunan bangunan.

Kadang-kadang sloof pun dibuat persis di level tanah dan dinding di atas lantai bangunan. Pada posisi ini, sloof memiliki fungsi untuk mencegah merembesnya air tanah melalui pori-pori dinding batu bata akibat gaya kapilaritas air. Sebab kalau peristiwa ini terus dibiarkan, dinding akan menjadi lembab dan rawan mengalami kerusakan. Pada rumah satu lantai dapat memakai sloof yang berukuran 12/15 atau 10/15. Sementara pada bangunan bertingkat, sloof yang digunakan biasanya ialah 1/12 L (jarak antar pondasi). Sedangkan untuk penulangannya harus dihitung sendiri berdasarkan gaya yang bekerja.

TIE BEAM

Tie beam pada dasarnya merupakan bentuk lain dari sloof. Jadi boleh dibilang kalau antara tie beam dan sloof itu sama saja, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda. Suatu balok sloof layak disebut sebagai tie beam manakala sloof tersebut berfungsi untuk mengikat pondasi-pondasi atau kolom-kolom bangunan menjadi satu kesatuan rangkaian yang utuh. Keberadaan tie beam ini akan meningkatkan level kekakuan bangunan sehingga mampu berdiri dengan kokoh dan lebih aman dihuni.

Baik sloof maupun tie beam ini, sama-sama dapat dibuat bertumpu pada pondasi menerus ataupun menggantung. Pada bangunan dengan skala yang relatif besar, faktor penurunan pondasi wajib ikut diperhtiungkan dalam menentukan penulangan struktur sloof/tie beam ini. Keberadaan struktur ini sendiri sama sepentingnya seperti pondasi bangunan. Tie beam dan sloof turut membantu mencegah kasus penurunan pada pondasi bangunan.