Olahan Makanan Laut Seafood yang Paling Aneh, Unik, dan Nyeleneh di Dunia

Siapa nih dari Anda yang suka banget dengan makanan laut (seafood)? Makanan laut memang memiliki cita rasa yang lezat sekali ya. Pilihannya pun bermacam-macam. Ada ikan, udang, kerang, kepiting, cumi-cumi, gurita, lobster, teripang, tiram, abalone, dan masih banyak lagi. Semuanya mempunyai rasa yang sungguh sedap dengan tekstur daging yang berbeda-beda. Apalagi jika seafood tersebut dimasak sesuai selera, dijamin semakin nagih makannya. Beruntung kita tinggal di Indonesia yang notabene mempunyai aneka ragam kekayaan laut yang banyak sekali.

Hasil laut di Indonesia pada umumnya dimasak dengan cara yang biasa-biasa saja. Misalnya nih seafood tadi direbus, digoreng, dibakar, dikukus, dipanggang, atau ditumis. Tapi tahukah Anda kalau masyarakat di luar negeri kerap mengonsumsi seafood dengan cara yang unik? Saking uniknya, bahkan metode tadi terbilang cukup aneh dan nyeleneh. Kami jamin Anda tidak akan dapat menemukan cara mengonsumsi seafood semacam ini di Indonesia. Khususnya di Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea Selatan yang biasa memakan seafood dengan cara yang aneh sekali.

SANNAKJI

Anda penggemar seafood alias makanan laut? Beragam olahan gurita mungkin bisa menggugah selera Anda. Tapi bagaimana dengan olahan gurita hidup? Jika Anda memiliki keberanian untuk memakannya, datang saja ke Korea Selatan. Di Negeri Ginseng, gurita hidup menjadi menu yang sangat populer dan dikenal dengan nama sannakji. Umumnya sannakji disajikan sebagai menu makan malam. Meski terlihat menyeramkan, banyak orang yang tertarik mencicipi sannakji. Tak hanya penduduk Korea Selatan, tetapi juga wisatawan dari berbagai negara.

Sannakji menggunakan bahan utama bayi gurita. Biasanya bagian yang dimakan adalah lengannya. Sannakji dinikmati dengan dua cara yaitu disantap utuh atau dipotong-potong kecil. Jika potongan gurita masih bergerak artinya kualitas sannakji ini tidak perlu diragukan lagi. Agar lebih menggugah selera, gurita diberi tambahan bumbu berupa biji dan minyak wijen. Ada pula yang mencampurnya dengan couya, saus khas Korea yang berwarna merah terang.

Sebelum menelannya, kita harus mengunyah dengan keras sampai potongan-potongan gurita tidak bergerak. Sebenarnya menelan gurita utuh atau potongan gurita yang masih bergerak tentu saja bisa membahayakan. Jika Anda tak hati-hati, lengan gurita akan menempel di mulut atau tenggorokan dan membuat kita tersedak. Popularitas sannakji di Korea Selatan memang tak terbantahkan. Bahkan kita bisa dengan mudah mencari hidangan gurita hidup-hidup ini mulai dari restoran mewah, rumah makan pinggir jalan, hingga pasar ikan tradisional.

Salah satu tempat yang paling terkenal dengan sannakjinya adalah pasar ikan jagal di kawasan Busan. Soal kualitas sannakji di sini tak perlu Anda ragukan karena gurita yang dijual benar-benar segar. Masyarakat Korea Selatan memang mempunyai kebiasaan mengonsumsi hewan laut hidup-hidup. Mereka percaya bahwa nutrisi yang terkandung di dalam hewan laut ini tidak akan tercemar oleh minyak dan bumbu jika dimakan dalam kondisi yang mentah.

GAEBUL

Ada lagi kuliner khas Korea yang tidak kalah unik. Namanya adalah gaebul. Gaebul sendiri merupakan cacing laut. Cacing laut ini biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar dan hidup. Konon gaebul sangat lezat. Teksturnya halus, baunya tidak terlalu amis, dan rasanya menyerupai daging kerang. Pantas saja kalau masyarakat Korea sangat menyukai makanan laut yang satu ini. Agar lebih nikmat, gaebul biasanya disantap dengan tambahan garam dan minyak wijen.

Selain di Korea Selatan, olahan cacing laut berwarna pink ini juga populer di Negara Jepang dan China loh. Cara menyantap gaebul di sini berbeda dengan kebiasaan masyarakat Korea. Di China, gaebul dimakan bersama dengan sayuran atau dikeringkan terlebih dahulu dengan tambahan bumbu sebagai penyedap rasa. Bagaimana nih apakah Anda tertarik mencicipi gaebul? Berbeda dengan sannakji yang bisa menyebabkan tersedak, gaebul tergolong aman dikonsumsi kok.

ODORI DON

Dari Korea Selatan, selanjutya kita beralih ke Negeri Sakura. Bagi Anda penggemar makanan Jepang, kurang lengkap rasanya jika Anda pernah belum mencicipi odori don alias cumi-cumi yang menari di atas mangkuk nasi. Bahan utama odori don adalah cumi-cumi segar. Sebelum disajikan, bagian kepala dan tubuhnya dipisahkan terlebih dahulu, lalu dibersihkan. Selanjutnya tubuh cumi-cumi yang sudah tak bernyawa ini diletakkan di atas nasi dan disiram dengan saus kecap.

Kandungan garam yang tinggi dalam kecap akan bereaksi dengan zat besi yang berada di tentakel cumi-cumi. Sehingga membuat hewan ini seolah-olah hidup lagi. Anda jangan kaget kalau cumi-cumi tersebut akan bergerak-gerak sendiri seperti sedang menari. Sensasi ini dipercaya bisa menggugah selera makan. Hampir semua restoran mewah di Jepang menawarkan odori don sebagai menu andalannya. Harga per porsinya sekitar ¥ 2.000 atau hampir Rp 220.000. Meski terbilang mahal, menu cumi-cumi menari ini laku keras karena memang sangat aneh.

DRUNKEN SHRIMP

Jika odori don terlalu ekstrem bagi Anda, bagaimana dengan drunken shrimp atau udang mabuk? Kuliner unik ini sangat terkenal di China loh. Drunken shrimp adalah udang segar yang dimakan dalam kondisi hidup-hidup. Dinamakan sebagai udang mabuk karena drunken shrimp ini umumnya disantap dengan arak putih. Jadi sudah pasti menu ini haram ya buat Anda yang beragama muslin karena sebab drunken shrimp memang mengandung alkohol. Jangan pernah coba-coba memakannya deh sebab masih banyak makanan yang rasanya lebih lezat dan halal kok.

Faktanya adalah setiap wilayah di China memiliki cara tersendiri dalam mengonsumsi drunken shrimp. Ada yang memakannya hidup-hidup. Ada yang merebusnya di air mendidih sebelum memakannya. Tapi  ada pula yang merendamnya di alkohol terlebih dulu sebelum udang direbus. Sensasi yang tercipta dari teknik memasak seperti ini katanya sih mampu menimbulkan rasa daging udang yang lebih lembut dan gurih. Pastinya bakal terlihat semakin menggoda deh.