Faktor-faktor yang Menyebabkan Dinding Rembes

Rumah yang ideal adalah rumah yang dapat membuat seluruh penghuninya merasa nyaman tinggal di dalamnya. Bukan kemegahan bangunannya, tapi kenyamanan rumah tersebut yang menjadi poin utamanya. Lantas, berbagai upaya pun dilakukan untuk mewujudkan rumah yang nyaman. Contohnya Anda memilih menggunakan dinding dari pasangan bata sebagai struktur penyusun bangunan. Rumah yang memakai pasangan bata ini dikenal dengan sebutan rumah permanen.

Konstruksi rumah yang dilengkapi dengan struktur dari pasangan bata memang mempunyai kekuatan yang sangat baik. Bangunannya mampu berdiri dengan kokoh. Dinding dari pasangan bata juga sulit sekali untuk dirobohkan. Bahkan dengan mekanisme pembuatan yang baik serta perencanaan yang matang, dinding dari pasangan bata ini dapat membentuk gedung pencakar langit yang tingginya mencapai ratusan meter. Maka tak heran, kebanyakan bangunan di dunia memakai dinding dari batu bata.

penyebab-dinding-rembes.jpg

Tetapi dinding dari pasangan bata ini tidak bisa dilepaskan dari masalah. Kendala utama yang sering menimpanya adalah dinding yang rembes. Ciri-ciri dinding yang rembes yaitu dinding tersebut sering dalam keadaan basah tanpa sebab yang jelas. Padahal Anda yakin tidak pernah menyiram dinding, namun dinding tadi basah dengan sendirinya. Dinding yang rembes juga biasanya hanya terjadi di area tertentu. Umumnya air yang merembes ke dinding berasal dari air bersih atau air kotor dari pipa saluran, air kondensasi dari AC, air tanah, atau air hujan.

Berikut ini faktor-faktor yang dapat menyebabkan dinding menjadi rembes, antara lain :

Faktor 1. Pembuatan Adukan Plester yang Salah

Adukan plester untuk menutupi dinding dan lantai harus dibuat dengan baik agar sanggup menahan air dan bersifat anti-rembes. Idealnya adukan ini dibuat dari semen dan pasir dengan perbandingan 1:2. Khususnya untuk dinding bagian luar, adukan ini dapat diaplikasikan sampai ketinggian minimal 20 cm di atas permukaan tanah. Sedangkan untuk dinding yang berbatasan langsung dengan ruangan basah seperti kamar mandi dan toilet, adukan ini diterapkan lebih tinggi lagi yaitu minimal 150 cm.

Tidak jarang oknum tukang bangunan yang nakal membuat adukan ini memakai semen dan pasir dengan perbandingan 1:5 untuk memangkas biaya. Padahal spesifikasi tersebut kurang baik sebab adukan plester yang dihasilkannya tidak bisa menahan air. Maka boleh diambil jalan tengahnya memakai semen dan pasir dengan perbandingan 1:3 untuk wilayah yang rawan rembes. Sedangkan untuk pemasangan lantai keramik bisa menggunakan campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:5.

Faktor 2. Batu Bata Tidak Direndam Dahulu

Wajib hukumnya merendam batu bata terlebih dahulu di dalam air sampai kondisinya berubah menjadi jenuh. Tujuan dari perendaman tersebut yaitu membuatnya menjadi basah sehingga pori-porinya tertutup. Jika Anda memasang batu bata saat kondisinya masih kering, pori-pori yang dimiliki oleh batu bata tadi akan menyerap air yang terkandung di dalam bahan spesi. Hal ini mengakibatkan struktur dinding tidak bisa mengering secara merata.

Faktor 3. Bocornya Pipa yang Ditanam

Pipa saluran air umumnya ditanam di dalam dinding. Maksudnya supaya penampilan ruangan menjadi lebih rapi dengan tidak adanya pipa-pipa yang bertebaran di mana-mana. Selain itu, penanaman pipa di dalam dinding atau lantai juga akan melindungi pipa tersebut sehingga tak mudah rusak. Namun bukan berarti pipa tadi benar-benar akan aman. Mungkin saja suatu hari nanti pipa ini akan rusak dan bocor sehingga mengakibatkan air di dalamnya mengalir keluar. Anda harus memperbaikinya sesegera mungkin.

Faktor 4. Membangun di Musim Hujan

Kalau bisa hindari membangun rumah pada saat musim penghujan. Di Indonesia, musim ini berlangsung mulai dari Bulan Oktober sampai Bulan Maret. Mengapa membangun rumah pada musim hujan tidak disarankan? Sebab pada musim tersebut, air hujan bisa datang sewaktu-waktu. Hal tersebut mengakibatkan semua material yang akan digunakan akan mengandung air hingga pada titik jenuh. Kalau Anda terpaksa membangun rumah pada saat musim hujan, tutupilah semua material memakai kain terpal. Gunakan juga adukan plester yang bagus dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:2 atau 1:3.

Faktor 5. Pemasangan Talang yang Keliru

Talang merupakan tempat mengalirnya air hujan menuju ke tanah. Seharusnya talang dibuat sedemikian rupa supaya air hujan bisa mengalir lancar dari atap ke tanah. Air tersebut tidak boleh meluber keluar atau jatuh menimpa dinding. Masalah yang sering terjadi yaitu pemilihan pipa yang terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung air hujan. Hal ini mengakibatkan air meluber ke daerah di sekitarnya. Selain itu, pemasangan pipa yang letaknya berhimpitan langsung dengan dinding terbuka juga rentan mengakibatkan dinding menjadi rembes.

Faktor 6. Rumah Bersebelahan Lahan Kosong

Persis di samping rumah Anda mungkin lahan kebun atau area persawahan? Jika benar, maka peluang dinding mengalami rembes menjadi lebih besar. Kasus yang sama juga terjadi apabila rumah Anda mempunyai taman yang mengelilingi bangunan utama. Masalah ini dapat terjadi karena adanya genangan air di lahan tersebut. Sedikit demi sedikit air di genangan tadi bakal meresap ke dalam dinding melalui pori-porinya. Solusi mengatasi masalah ini yaitu memakai waterproof untuk melindungi dinding.

Faktor 7. Dinding Mengalami Keretakan

Keretakan yang terjadi pada dinding dapat menjadi jalan bagi air untuk meresap masuk ke dalamnya. Baik itu retak rambut maupun retak struktur bisa menimbulkan masalah yang sama. Adanya bagian yang retak membuat dinding tersebut semakin berpotensi menjadi lembab. Anda wajib mengatasi masalah ini sesegera mungkin agar struktur dinding tadi tidak menjadi rapuh. Kami sudah pernah memberikan solusi secara lengkap pada artikel sebelumnya.