Sipil
Oct17

Material-material yang Menyusun Beton Bertulang

Apa sajakah material-material yang menyusun beton bertulang? Beton bertulang adalah struktur yang paling penting dalam pendirian konstruksi suatu bangunan. Beton bertulang ini biasanya diaplikasikan dalam bentuk pondasi, sloof, balok lantai, kolom, balok latei, dan balok ring. Karakteristik utama dari struktur ini yaitu kuat terhadap gaya tekan dan gaya tarik.

Beton bertulang dapat dijumpai hampir di setiap jenis bangunan mulai dari rumah, gedung, jembatan, jalan, bendungan, drainase, dan sebagainya. Kelebihan dari struktur ini antara lain tahan terhadap getaran, kuat menopang beban, tidak gampang berkarat, antiair dan antiapi, bersifat fleksibel, serta memiliki daya tahan yang cukup tinggi. Biaya pembuatan struktur beton bertulang juga lebih hemat dibandingkan dengan struktur baja. Pun dalam perawatannya, struktur ini hampir tidak membutuhkan pemeliharaan sama sekali.

material-beton-bertulang.jpg

Beton Bertulang

Pada prinsipnya, material penyusun beton bertulang terdiri atas beton dan baja. Beton merupakan material komposit yang dibuat dari campuran agregat dan pengikat semen. Sedangkan baja ialah logam yang terbentuk dari kombinasi besi dan karbon.

BETON

Seperti yang sudah disebutkan di atas, beton tersusun atas kombinasi agregat dengan campuran semen pengikat. Beton yang paling umum digunakan yaitu beton semen portland yang terdiri dari pasir, kerikil, semen, dan air. Perkembangan dunia arsitektur melahirkan bentuk-bentuk beton yang baru di antaranya beton ringan, beton shotcrete, beton fiber, beton berkekuatan tinggi, beton berkekuatan sangat tinggi, dan beton self compacted.

Di bawah ini penjelasan dari masing-masing material yang menyusun beton antara lain :

1. Semen

Pada beton, semen berfungsi sebagai bahan pengikat hidrolik yang bersama air menyatukan agregat halus dan agregat kasar. Jenis-jenis semen yang dijual di Indonesia meliputi PCC (Portland Composite Cement), PPC (Portland Pozzoland Cement), dan OPC (Ordinary Portland Cement). Dari ketiga jenis semen tersebut, PPC merupakan jenis semen yang paling banyak digunakan. Alasannya semen ini lebih mudah digunakan, menghasilkan ketahanan yang awet, tahan terhadap sulfat, bersifat kedap, dan tidak gampang retak. Paling cocok semen PPC dipakai dalam pembuatan beton cor bervolume besar sebab tingkat panas hidrasinya cenderung lebih rendah.

2. Agregat Halus

Agregat halus yang umumnya digunakan dalam pembangunan beton adalah pasir. Pasir yang mempunyai kualitas tinggi ditandai dengan kandungan lumpur dan tanahnya yang rendah, berwarna keabu-abuan bukan cokelat, tidak terlalu mengeruhkan air, serta beremah dan tidak menggumpal saat digenggam tangan. Contoh-contoh pasir yang terkenal akan mutunya yang bagus yaitu pasir galunggung, pasir muntilan, pasir bangka, pasir cilegon, pasir mundu, dan pasir rangkas.

3. Agregat Kasar

Dalam pembuatan beton, agregat kasar yang dipakai biasanya berupa batu kerikil atau batu split. Batu ini merupakan batu cadas atau batu kali yang dipecah dengan ukuran split 1/2 atau split 3/4 yang disesuaikan dengan ukuran tulangan baja. Standar agregat kasar yang kualitasnya baik meliputi tidak gampang tergores, bentuknya tidak pipih sebab rentan pecah, dan tidak pula terlalu bulat karena bakal licin yang menyebabkan semen sukar merekat.

4. Air

Peranan air dalam pembuatan beton yaitu bereaksi dengan semen sehingga membentuk suatu pasta pengikat untuk menggabungkan agregat halus, agregat kasar, dan admixtures. Air secara langsung mempengaruhi daya kuat tekan beton, sifat kinerja adukan beton, besar kecilnya nilai susut beton, kelangsungan reaksi dengan semen, dan mendukung perawatan adukan beton untuk menjamin pengerasan yang sempurna. Syarat-syarat air yang bagus digunakan sebagai bahan pembuatan beton seperti tidak berlumpur lebih dari 2 gram/liter, tingkat keasamannya di ambang standar dengan kadar garam kurang dari 15 gram/liter, dan tidak mengandung klorida yang melebihi 0,5 gram/liter.

5. Admixtures

Admixtures adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam adukan beton untuk mengubah sifat beton yang dihasilkan. Sebagai contoh yakni water reducer admixture digunakan untuk mengurangi kebutuhan air, retarder admixture dipakai untuk memperlambat pengerasan beton, dan accelerator admixture ditujukan untuk mempercepat pengerasan beton. Perlu diketahui, admixture bukanlah bahan utama yang menyusun beton, melainkan sebatas bahan tambahan sehingga penggunaannya bersifat tidak mutlak.

BAJA

Bahan penyusun beton bertulang yang kedua adalah baja. Baja memiliki kemampuan yaitu tahan terhadap gaya tekan dan gaya tarik. Namun karena harganya yang mahal, pemanfaatan baja hanya diutamakan untuk gaya tarik dari beton bertulang. Dengan demikian baja dan beton saling bekerjasama dalam menangani beban tarik dan beban tekan yang timbul di suatu bangunan.

Baja yang digunakan dalam perencanaan struktur beton bertulang adalah baja yang berbentuk tulangan yaitu kecil memanjang. Ada dua macam baja tulangan yang tersedia di pasaran yakni BJTP (Baja Tulangan Polos) dan BJTD (Baja Tulangan Deform).

Baja tulangan polos umumnya dipakai dalam pembuatan beton bertulang jenis geser, begel, atau sengkang. Baja tulangan ini memiliki tegangan leleh minimal sekitar 240 MPa. Ukuran-ukuran diameter baja tulangan polos yang dijual di pasaran antara lain 6 mm, 8 mm, 10 mm, 12 mm, 14 mm, dan 16 mm.

Sementara itu, baja tulangan deform atau juga disebut baja tulangan ulir biasanya dimanfaatkan sebagai tulangan longitudinal atau tulangan memanjang. Baja tulangan ini memiliki tegangan leleh minimal sebesar 300 MPa. Baja tulangan ulir yang umumnya dijual di pasaran memiliki ukuran 10 mm, 13 mm, 16 mm, 19 mm, 22 mm, 25 mm, 32 mm, 36 mm, dan 40 mm.