Ini Loh Cara Pemasangan Genteng Tanah Liat

Rumah harus dilengkapi dengan bagian atap sebagai pelindung dari air hujan dan sinar matahari. Genteng tanah liat merupakan material penyusun atap yang paling banyak digunakan oleh rumah-rumah di Indonesia. Genteng ini mempunyai banyak kelebihan daripada jenis-jenis genteng yang lainnya. Selain tentunya bisa didapatkan dengan harga terjangkau, genteng tanah liat juga mempunyai daya redam yang sangat baik terhadap panas dan suara.

Anda yang baru pertama kali berkesempatan memasang genteng tanah liat bisa mempelajari kiat-kiatnya dengan panduan sebagai berikut! Tetapi mohon maaf, postingan ini hanya berisi tentang gambaran singkat proses pemasangan genteng. Penjelasan mengenai masing-masing tahap akan kami uraikan di dalam artikel yang terpisah sehingga pembahasan isinya bisa lebih mendalam. Kami harap Anda bisa memakluminya.

memasang-genteng-tanah-liat.jpg

Berikut ini merupakan tahap-tahap dalam memasang genteng tanah liat, antara lain :

Tahap 1. Pembuatan Kuda-kuda

Struktur kuda-kuda adalah susunan rangka batang yang berperan untuk menahan beban atap. Struktur ini sekaligus juga berguna untuk memberikan bentuk pada atap. Kuda-kuda berfungsi sebagai penyangga utama atap serta termasuk ke dalam klasifikasi struktur framework (truss). Bahan baku yang biasa dipakai untuk membuat kuda-kuda misalnya kayu, bambu, baja, dan beton bertulang. Volume kuda-kuda dihitung dari total bahan dikalikan dimensi material yang digunakan. Satuannya adalah m3.

Tahap 2. Pembuatan Gording

Gording akan membagi-bagi bentangan atap pada proyeksi horizontal ke dalam jarak-jarak yang lebih kecil. Gording juga memiliki peranan untuk meneruskan beban yang berasal dari genteng, reng, usuk, dan lain-lain. Pemasangan gording dilakukan di atas kuda-kuda dan biasanya tegak lurus dengan struktur ini. Gording menjadi ikatan bagi usuk sehingga posisi dan ukurannya harus disesuaikan dengan usuk yang digunakan. Gording ini harus dipasang tepat di atas titik buhul kuda-kuda.

Tahap 3. Pembuatan Jurai

Jurai adalah garis sambungan antara bidang atap yang satu dengan bidang yang lainnya. Sesuai bentuknya, ada dua macam jurai yaitu jurai dalam dan jurai luar. Jurai dalam berupa balok kayu yang diletakkan miring ke dalam. Fungsinya sebagai pertemuan dan tumpuan balok gording. Sedangkan jurai luar merupakan sambungan yang menonjol ke arah luar. Pada jurai ini biasanya dipasangi genteng khusus yang disebut nok. Pemasangan jurai harus dilakukan dengan benar agar tidak rentan mengalami kebocoran.

Tahap 4. Pembuatan Balok Nok

Balok nok dikenal pula dengan sebutan bubungan. Ini merupakan struktur yang mengikat kuda-kuda yang satu dengan lainnya. Posisi balok nok terletak memanjang sesuai dengan panjang rangka atap yang hendak dibangun. Sama seperti pada proses pembuatan gording dan jurai, pekerjaan pembuatan balok nok dan pemasangannya harus dilakukan setepat mungkin. Balok nok ini biasanya memiliki ukuran 8/12, 6/12, dan lain-lain.

Tahap 5. Pemasangan Kuda-kuda

Pemasangan kuda-kuda dilakukan pada tempat yang sebelumnya telah ditentukan. Proses ini tidak membutuhkan material tambahan. Kuda-kuda dipasang setelah selesai dibuat. Dalam anggaran pembangunan, biaya pemasangan kuda-kuda ini biasanya diambil sebesar 50 persen dari total pembuatan kuda-kuda. Hal yang sama juga berlaku untuk pemasangan gording, jurai,  dan balok nok. Adapun satuan volumenya adalah m3.

Tahap 6. Pemasangan Papan Suri

Papan suri adalah papan yang terletak di atas balok nok. Papan ini mempunyai fungsi untuk menahan kerpus. Standar ukuran yang biasa digunakan untuk membuat papan kursi adalah 2/20. Bisa pula lebih besar atau lebih kecil sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pemasangan papan suri dilakukan tegak di atas balok nok dan lokasinya berada di atas jurai luar. Papan ini akan memegang adukan perekat (seman dan pasir) yang dipakai untuk memasang genteng nok yang menutup pertemuan atap dari kedua sisi.

Tahap 7. Pemasangan Usuk

 Usuk berguna untuk menerima beban yang berasal dari penutup atap dan reng, kemudian meneruskan beban tersebut ke gording. Pada umumnya, usuk dibuat dari kayu yang berukuran 5/7 cm dan memiliki panjang maksimal 4 m. Antara usuk yang satu dengan usuk lainnya dipasang pada jarak sekitar 30-50 cm. Arah pemasangannya tegak lurus dengan gording. Lalu usuk dihubungkan dengan gording menggunakan paku. Untuk menghindari pecahnya kayu, pemasangan usuk juga bisa dibor terlebih dahulu.

Tahap 8. Pemasangan Aluminium

Tahap ini bersifat opsional yang artinya boleh dilakukan atau dilewati. Pemasangan papan aluminium di sini berguna untuk mengurangi panas dari sinar matahari serta menghindari terjadinya tampias, rembesan, atau bocor saat hujan turun. Papan ini dipasang di antara letak pemasangan usuk dan reng. Jadi pasanglah usuk terlebih dahulu, lalu pasang papan ini, dan dilanjutkan pemasangan reng. Kami rekomendasikan pakailah papan aluminium karena memiliki sifat dan karakteristik yang lebih baik daripada papan seng.

Tahap 9. Pemasangan Reng

Fungsi reng adalah tumpuan penutup atap dan meneruskan beban yang diterimanya ke usuk atau kaso. Kayu yang biasa digunakan sebagai reng memiliki ukuran 2/3 cm sampai 3/5 cm dengan panjang mencapai 3 m. Pada pemasangan genteng tanah liat, reng wajib dipasang. Pemasangan reng ini dilakukan dengan arah yang tegak lurus terhadap arah pemasangan usuk. Jaraknya menyesuaikan dengan panjang gentengnya. Penghitungan jumlah kebutuhan reng sama seperti cara menghitung usuk dengan satuan m2.

Tahap 10. Pemasangan Genteng Tanah Liat

Genteng tanah liat menjadi elemen yang paling luar dari struktur atap bangunan. Genteng tanah liat menjadi material penutup atap yang paling favorit masyarakat Indonesia karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan negara kita. Genteng tanah liat dipasang per baris yang dimulai dari bagian tengah bangunan menuju ke bagian pinggir. Pastikan pemasangan genteng ini dilakukan dengan susunan yang serapi mungkin. Disarankan mengaplikasikan cat waterproof ke permukaan genteng untuk mencegah terjadinya rembesan air dan kebocoran.