Sipil
Oct1

Ini Dia Jenis-jenis Pondasi Dangkal dan Penjelasannya

Penasaran dengan jenis-jenis pondasi dangkal yang banyak dipergunakan saat ini? Bagian dari struktur bangunan yang berguna sebagai penopang beban bangunan yang didirikan di atasnya dinamakan pondasi. Perlu diketahui, pondasi ini terletak di struktur bagian paling dasar dan menjadi penghubung langsung antara bangunan dengan tanah. Jadi keberadaan pondasi memegang peranan yang krusial pada keberlangsungan suatu bangunan.

Proses pembuatan pondasi wajib memperhitungkan analisis mekanis dan dimensi bangunan secara keseluruhan. Perhatikan pula faktor-faktor kelayakan tanah seperti kondisi, jenis, dan kekuatannya. Pondasi yang sederhana bisa diterapkan di tanah yang mempunyai daya dukung bagus. Sebaliknya, tanah yang labil memerlukan pondasi yang lebih spesifik.

Tahukah anda, berdasarkan tingkat kedalamannya maka pondasi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal adalah pondasi yang dibangun dengan kedalaman maksimal tiga meter. Sedangkan pondasi dalam yaitu pondasi yang memiliki kedalaman lebih dari tiga meter. Artikel ini akan membahas seputar jenis-jenis pondasi dangkal dan karakteristiknya.

Pengertian Pondasi Dangkal

Pondasi dangkal merupakan pondasi yang mempunyai kedalaman kurang dari 3 meter. Perhitungan tingkat kedalaman tersebut didasarkan pada sepertiga dari ukuran lebar alas pondasi. Pondasi dangkal hanya bisa digunakan pada tanah yang stabil, memiliki daya dukung tinggi, dan bersifat keras. Selain itu, spesifikasi bangunan yang akan didirikan di atasnya pun tidak boleh terlalu tinggi maupun terlalu besar.

Di sisi lain, pondasi dangkal tidak direkomendasikan untuk diaplikasikan pada tanah gambut atau tanah bekas rawa. Hal ini dikarenakan saat dibuat di tanah yang tidak stabil, maka pondasi ini tidak akan cukup mampu menopang bangunan sehingga berisiko besar ambruk. Kalaupun terpaksa membuat pondasi dangkal di tanah yang labil, maka tanah tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu kekuatannya memakai sistem cerucup atau tiang pancang yang ditanam di bawah pondasi.

Berdasarkan model strukturnya, pondasi dangkal terdiri dari 3 macam yaitu pondasi menerus, pondasi setempat, dan pondasi sarang laba-laba. Simak penjelasan berikut ini :

1. Pondasi Menerus

Pondasi Menerus

Pondasi menerus didirikan dengan bentuk persegi atau trapesium secara memanjang. Oleh karena itu, pondasi ini juga dipakai untuk beban yang berbentuk garis atau panjang seperti dinding dan kolom. Kelebihan dari pondasi menerus yaitu beban bangunan ditopang secara merata oleh pondasi. Sedangkan kekurangannya ialah memerlukan biaya yang besar, pembuatannya relatif lama, dan kebutuhan tenaga kerjanya pun banyak. Adapun beton menerus dibuat dari batu kali, batubata, atau beton kosong yang dicampur dengan semen, pasir, dan kerikil.

2. Pondasi Setempat

Pondasi Setempat

Pondasi setempat merupakan pondasi yang dibuat di satu titik tempat tertentu. Pondasi ini berfungsi untuk menopang beban yang berfokus pada satu bidang misalnya kolom praktis, tiang kayu, dan kolom struktural. Pondasi setempat dapat dibagi lagi menjadi pondasi ompak batu yang dipakai untuk mendukung rumah sederhana, pondasi ompak beton yang sering diterapkan pada rumah tradisional, serta pondasi pelat yang memiliki bentuk tingkatan.

3. Pondasi Sarang Laba-laba

Pondasi Sarang Laba-laba

Sesuai penamaannya, pondasi sarang laba-laba dibuat meniru seperti sarang laba-laba yang berbentuk jaring melingkar. Pondasi ini termasuk pondasi dangkal yang konvensional karena merupakan perpaduan dari pondasi menerus, pondasi pelat, dan sistem perbaikan tanah. Karakteristik dari pondasi sarang laba-laba yakni memanfaatkan kekuatan tanah sebagai bagian dari struktur pondasi sehingga lebih kokoh. Bahkan pondasi ini ideal diterakan pada bangunan-bangunan yang mempunyai lantai lebih dari 8 tingkatan.

Pembuatan pondasi sarang laba-laba dimulai dengan membangun pondasi pelat secara menerus. Kemudian di bagian bawah pondasi tersebut dipasangi dengan rib dari beton bertulang yang berukuran tegak,tipis, dan tinggi sehingga sekilas tampak membentuk kotak terbalik. Berikutnya rib-rib tersebut diatur membentuk petak segitiga yang kaku. Setelah itu, rongga kosong yang tercipta di bawah plat antar-rib bisa diisi dengan pasir atau tanah lalu dipadatkan setiap ketinggian 20 cm supaya daya dukungnya lebih besar.