Sipil
Oct24

6 Jenis Dinding Rumah dari Beton sampai Batu

Ingin tahu jenis-jenis dinding untuk rumah? Dinding ialah struktur bangunan yang berguna sebagai pelindung dan pemisah ruangan. Elemen ini terletak di atas balok sloof dan di bawah balok ring yang juga disangga oleh balok kolom.

Berdasarkan teknik konstruksinya, dinding dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu dinding struktural dan dinding non-struktural. Dinding struktural (bearing wall) berguna untuk menahan beban bangunan sehingga wajib dibangun dengan struktur yang benar-benar kokoh. Sedangkan dinding non-struktural memiliki kegunaan sebagai partisi dan tidak menahan bobot bangunan.

jenis-jenis-dinding.jpg

Dinding

Sementara itu, jenis dinding rumah juga dapat dibagi menjadi 6 macam menurut bahan dasar pembuat yang digunakan. Di antaranya dinding beton, dinding batubata, dinding hebel, dinding batako, dinding kayu, dan dinding batu alam. Berikut ini penjelasan selengkapnya dari masing-masing dinding untuk rumah tersebut.

1. Dinding Beton

Dinding berbahan beton sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai struktur penopang bangunan. Hal ini bisa dilihat pada bangunan-bangunan kuno seperti kuil di Yunani, piramida di Mesir, dan kastil di Romawi. Bahkan dinding ini tersohor berkat tingkat kekuatannya yang sangat tangguh dan awet selama berabad-abad. Namun di sisi lain, biaya pembuatan dinding beton amatlah mahal. Beratnya yang besar juga mengharuskan dinding ditopang oleh struktur yang rumit.

2. Dinding Batubata

Dinding ini dibangun menggunakan bahan dasar batubata yaitu bahan bangunan dari tanah liat yang dicetak berbentuk balok kemudian dibakar. Karakteristik batubata yang bermutu baik diatur dalam SNI 15-2094-2000. Terdapat 2 model pemasangan dalam pembuatan dinding batubata. Pertama adalah dinding pasangan satu batubata yang biasanya digunakan untuk dinding struktural. Sedangkan kedua adalah dinding pasangan setengah batubata yang dipakai untuk dinding non-struktural, di mana dinding ini harus didukung oleh kolom, sloof, dan ringbalk supaya kekuatannya lebih terjamin. Hingga kini dinding batubata merupakan dinding yang paling populer.

3. Dinding Hebel

Hebel termasuk bahan bangunan baru yang dikembangkan dari batubata. Itu sebabnya, banyak pula yang menyebut material ini dengan istilah batubata ringan. Hebel terbuat dari campuran pasir kuarsa, semen, kapur, gypsum, air, dan alumunium dengan perbandingan tertentu. Kelebihan dari hebel yaitu bentuknya presisi, mudah dipotong, kualitas terjamin, dan pemasangannya relatif singkat. Sebaliknya hebel mempunyai beberapa kekurangan antara lain perekatannya wajib memakai mortar dan harga material di pasaran pun terbilang mahal.

4. Dinding Batako

Proses pembuatan dinding batako sama seperti pendirian dinding berbahan batubata. Namun karena dimensinya lebih besar, penggunaan batako akan menghemat kebutuhan adukan semen hingga 50-75 persen. Di samping itu, dinding batako juga mempunyai permukaan yang rata sehingga hanya memerlukan plesteran dan acian yang tipis untuk finishing. Kekurangan dari batako adalah kekuatannya tidak terlalu besar dalam menopang bangunan sehingga berisiko tinggi bila diterapkan pada bangunan bertingkat. Daya pakai dinding ini pun relatif singkat jika dibandingkan dengan jenis-jenis dinding yang lain.

5. Dinding Kayu

Kebanyakan rumah-rumah tradisional di Indonesia dilengkapi dengan dinding dari kayu. Tidak hanya berupa papan, kayu-kayu yang dipakai pun banyak pula yang masih berbentuk batang log. Guna mengatasi sifat kayu yang dapat menyusut dan memuai, dikenal sirap untuk konstruksi kayu yang merupakan bahan paling baik dalam penyesuaian terhadap susut dan muai. Kepopuleran desain rumah minimalis alami saat ini mengangkat kembali citra kayu sebagai material dinding rumah.

6. Dinding Batu Alam

Batu alam yang sering dipakai untuk dinding rumah yaitu batu kali dan batu cadas. Teknik pembangunan dinding batu alam ini masih sama dengan dinding batubata yakni batu dipasang secara bertumpuk dan berselang-seling serta direkatkan menggunakan adukan semen. Jadi otomatis dinding ini sudah mempunyai ketebalan yang cukup besar dan kuat untuk menyangga konstruksi bangunan. Dengan demikian tidak diperlukan lagi struktur tambahan yang membantu fungsi dari dinding tersebut.