Mari Mengenal Proses Pengawetan Bambu dari A sampai Z

Pengawetan bambu dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas, kekuatan, daya tahan, dan kegunaan dari bambu tersebut. Proses ini dapat dilakukan secara alami maupun memakai bahan-bahan kimiawi. Pada dasarnya, tujuan dari proses pengawetan bambu antara lain meningkatkan daya tahan bambu, menunda terjadinya kerusakan, mempertahankan stabilitas struktur bambu, menambah ketahanan lain, serta meningkatkan mutu bambu secara estetika.

Bambu harus diawetkan karena mengandung zat glukosa yang sangat tinggi. Zat inilah yang menarik perhatian serangga seperti rayap, tikus, kutu bubuk, dan kumbang untuk menggerogotinya. Tak adanya zat toksik di dalam bambu juga semakin memperparah serangan serangga-serangga tersebut. Melalui proses pengawetan, kita bisa menurunkan atau menghilangkan kandungan zat glukosa di dalam bambu, kemudian memasukkan zat racun ke dalamnya.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan metode yang akan digunakan dalam mengawetkan bambu, antara lain :

  1. Kondisi bambu tersebut apakah kering atau basah.
  2. Bentuk bambu apakah masih utuh, berupa bilah-bilah bambu, atau sudah berbentuk produk.
  3. Tujuan penggunaan bambu ini apakah untuk pekerjaan struktur atau non-struktur.
  4. Jumlah bambu yang akan diawetkan seberapa banyak.
  5. Dukungan alat dan bahan untuk keperluan mengawetkan bambu.

Pengawetan Bambu Secara Tradisional

Praktek pengawetan bambu secara tradisional umumnya sudah dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun. Tujuan utamanya yaitu meningkatkan masa pemakaian dari bambu tersebut. Beberapa metode pengawetan bambu secara tradisional di antaranya :

  • Pengendalian Waktu Tebang adalah metode pengaturan waktu untuk menebang pohon bambu. Masyarakat Jawa dan Sunda mempercayai waktu penebangan pohon bambu akan berpengaruh terhadap kualitas dari bambu tersebut. Waktu yang paling baik untuk menebang bambu yaitu pada bulan Maret, saat bulan purnama, dan menjelang subuh.
  • Perendaman Bambu adalah metode yang dilakukan dengan merendam bambu di suatu kolam dengan tujuan untuk menghilangkan kandungan zat glukosanya. Perendaman ini bisa dilakukan di sawah, parit, sungai, dan laut. Dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai bertahun-tahun agar kualitas bambu semakin meningkat.
  • Pengasapan Bambu adalah metode dengan mengasapi bambu secara terus-menerus untuk meningkatkan daya tahannya. Bambu yang diasapi dalam waktu lama akan mengering serta berkurang kelembaban bagian dalamnya. Proses pengasapan bambu secara tradisional dilakukan dengan meletakkan batang-batang bambu di dapur yang memakai tungku.
  • Pencelupan dengan Kapur (CaOH2) adalah metode pengawetan bambu yang memanfaatkan kapur sebagai bahan pengawetnya. Bambu-bambu yang akan diawetkan lantas dicelupkan ke dalam larutan kapur. Hal ini akan memicu terbentuknya kalsium karbonat yang bisa mencegah penyerapan air. Sehingga bambu terhindar dari kelembaban dan jamur.
  • Pemanggangan Bambu adalah metode untuk mengawetkan bambu yang dilakukan dengan memanggang bambu di atas bara api. Bambu yang akan diawetkan tentu saja tak boleh terkena api secara langsung agar tidak terbakar. Metode ini juga sekaligu berguna untuk meluruskan kembali bentuk bambu yang sudah bengkok.

Pengawetan Bambu Secara Modern

Proses pengawetan bambu secara modern dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan kimia yang telah terbukti secara efektif dan efisien sanggup mengawekan bambu. Proses ini dilakukan dengan memasukkan bahan-bahan kimia yang berfungsi sebagai pengawet ke dalam bambu menggunakan berbagai metode. Tingkat efisiensi pengawetan kimia terhadap peningkatan masa pemakaian bambu dipengaruhi oleh struktur anatomi bambu itu sendiri.

Ada sejumlah bahan kimia yang bisa dipakai untuk mengawetkan bambu, meliputi :

  • Senyawa boron
  • Zinc Chloride/Copper Sulphate
  • NaPCP (Sodium Penta Chloro Phenate)
  • CCA (Copper Chrome Arsenic) dan ACA (Ammoniacal Copper Arsenate)
  • CCB (Copper Chromium Boron)
  • Karosete/Ter

Berdasarkan bahan dasar pelarutnya, bahan pengawet kimiawi bisa dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

  1. Bahan Pengawet Berbahan Dasar Air

Prinsip kerja bahan pengawet berbahan dasar air ialah bahan pengawet ini akan diserap oleh bambu ketika kondisinya basah. Kemudian setelah kondisi bambu mengering kembali, hanya air yang menguap sedangkan bahan pengawetnya masih tersimpan di dalam bambu. Hal inilah yang membuat bambu tersebut lebih awet. Bahan pengawet bambu berbahan dasar air ada yang memiliki sifat permanen seperti CCB (Copper Chrome Boron) serta non-permanen misalnya boron-boric acid.

  1. Bahan Pengawet Berbahan Dasar Minyak

Di sini menggunakan bahan kimia berbahan dasar minyak sebagai pengawet bambu. Misalnya yaitu karosete/ter. Cara penerapannya dilaksanakan dengan pemberian tekanan tinggi atau pemanasan. Karena memakai bahan minyak, bambu yang diawetkan dengan bahan-bahan ini memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap air, kelembaban, dan jamur. Biasanya bahan pengawet ini digunakan untuk bambu-bambu yang akan dipakai di luar ruangan.

Metode Pengawetan Bambu Secara Modern

Metode pengawetan bambu secara modern dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

Perendaman Pangkal Bambu

Metode perendaman pangkal bambu memanfaatkan sifat zat cair yang mampu menyerap melalui pori-pori kapiler di dalam batang bambu. Tata cara pelaksanaannya yaitu batang bambu yang baru dipotong lantas diletakkan secara vertikal di dalam wadah yang berisi larutan pengawet. Hanya bagian pangkal bambu saja yang terendam oleh larutan tersebut.

Waktu perendamannya sendiri tergantung dari ukuran batang bambu dan kelembabannya. Biasanya metode perendaman pangkal bambu ini berlangsung selama 10-15 hari. Bambu yang cocok diawetkan dengan metode ini yaitu batang bambu yang memiliki panjang maksimal 2 meter. Metode ini sendiri bisa digunakan untuk mengawetkan bambu utuh dan bambu belah.

Perendaman Difusi

Metode perendaman difusi bisa diaplikasikan untuk mengawetkan bambu utuh maupun bambu belah. Prinsip utamanya yaitu bahan pengawet akan masuk ke dalam bambu akibat perbedaan konsentrasi larutan. Peristiwa ini sekaligus juga akan memicu keluarnya cairan glukosa yang terkandung di dalam bambu akibat tekanan osmosis. Upaya percepatan perendaman difusi dapat dilaksanakan dengan meningkatkan kadar larutan pengawet serta pemecahan buku-buku bambu terlebih dahulu.

Pada perkembangannya, metode pengawetan bambu melalui perendaman difusi dikembangkan lagi menjadi beberapa metode yang meliputi :

  1. Perendaman dengan Pemanasan – Bambu direndam di dalam larutan bahan pengawet sembari dipanaskan untuk mempercepat terjadinya proses penetrasi dari bahan pengawet tersebut terhadap bambu.
  2. Perendaman Vertikal – Bambu dilubangi terlebih dahulu, lalu disusun secara vertikal. Kemudian bahan pengawet dimasukkan ke dalam bambu. Tekanan air akan mempercepat terjadinya proses penyerapan larutan pengawet. Metode ini cocok digunakan untuk bambu utuh yang ukurannya cukup panjang.
  3. Penggantian Cairan Bambu dengan Bahan Pengawet – Bambu diberi tekanan yang tinggi untuk mengeluarkan cairan yang ada di dalamnya. Pada saat yang bersamaan juga dimasukkan larutan bahan pengawet ke dalam bambu tersebut. Peralatan yang digunakan yaitu pompa/tangki bertekanan dan pipa-pipa atau selang karet yang diletakkan di salah satu ujung bambu. Metode ini cocok diaplikasikan untuk bambu utuh yang kondisinya masih basah.

Pengawetan dengan Tangki Bertekanan

Prinsip dasar proses pengawetan bambu dengan tangki bertekanan yakni memaksa bahan pengawet masuk ke dalam bambu. Metode ini sangat cocok diaplikasikan untuk bambu yang kondisinya sudah kering. Adapun bahan pengawet yang digunakan dalam metode ini antara lain borax-boric acid, CCB, CCA, dan ter. Keunggulan cara mengawetkan bambu dengan tangki bertekanan yaitu durasi waktu pengawetannya dapat berlangsung lebih cepat.

Adapun tahap-tahap proses pengawetan bambu menggunakan tangki bertekanan meliputi :

  • Tahap Vakum – Bambu dimasukkan ke dalam tangki vakum khusus. Kemudian berikan tekanan yang cukup tinggi di dalam tangki tersebut untuk mengeluarkan semua udara di dalamnya. Alhasil kondisi tangki pun sekarang menjadi hampa udara.
  • Tahap Pengawetan – Bahan pengawet dimasukkan ke dalam tangki vakum tersebut pada saat tekanan udara masih bekerja. Sehingga bahan pengawet pun dengan cepat akan memasuki pori-pori bambu yang sedang diawetkan. Agar prosesnya dapat berjalan lebih efektif dan efisien, tekanan udara dinaik-turunkan atau dibuat fluktuatif.