4 Cara Merawat Beton Setelah Dicor

Setelah proses pengecoran beton telah selesai dilaksanakan, proses selanjutnya yaitu merawat beton tersebut. Proses ini dilakukan setelah beton mencapai final setting yaitu beton tersebut sudah mengeras. Tujuan perawatan beton adalah memastikan proses hidrasi berikutnya tetap lancar dan tidak mengalami gangguan. Sebab apabila proses hidrasi mengalami masalah, maka beton tersebut akan mengalami keretakan karena terlalu cepat kehilangan air.

Maksud perawatan beton ini tak hanya untuk memperoleh kekuatan tekan beton yang tinggi, tetapi juga untuk memperbaiki kualitas dari tingkat keawetan beton, tingkat kekedapan terhadap air, tingkat ketahanan terhadap keausan, dan tingkat stabilitas dari dimensi struktur. Adapun cara menjaga supaya proses hidrasi beton ini bisa berlangsung dengan sempurna yakni mengatur kelembaban beton selama proses curing.

Curing pada beton memiliki peran penting pada pengembangan kekuatan beton dan daya tahannya. Pelaksanaan curing dilakuan secepat mungkin setelah proses pencetakan beton sudah selesai. Pekerjaan pada curing meliputi pemeliharaan kelembaban dan kondisi suhu, baik di dalam beton maupun permukaannya selama periode waktu tertentu. Tujuan curing beton yaitu memberikan kelembaban yang cukup pada proses hidrasi lanjutan dan pengembangan kekuatan, stabilitas volume, ketahanan terhadap pembekuan, pencairan, serta abrasi.

Curing beton dapat dilakukan dengan metode pembasahan, penguapan, pemakaian membran, dan metode yang lainnya.

CURING DENGAN PEMBASAHAN

Proses pembasahan beton selama curing bisa dilakukan di laboratorium khusus atau lapangan secara langsung. Beberapa cara yang dapat dilaksanakan di antaranya :

  • Meletakkan beton segar di dalam ruangan yang lembab untuk beton contoh uji.
  • Meletakkan beton segar di dalam genangan air untuk beton contoh uji.
  • Meletakkan beton segar di dalam air untuk beton contoh uji.
  • Menyelimuti permukaan beton memakai air untuk beton di lapangan.
  • Menyelimuti permukaan beton memakai karung basah untuk beton di lapangan.
  • Menyelimuti permukaan beton secara berkelanjutan untuk permukaan beton vertikal.
  • Melapisi permukaan beton menggunakan air untuk permukaan beton vertikal.

CURING DENGAN PENGUAPAN

Perawatan beton dengan metode penguapan dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu perawatan dengan uap bertekanan rendah serta perawatan dengan uap bertekanan tinggi. Pada proses perawatan beton menggunakan uap bertekanan rendah pada suhu 40-55 oC dilangsungkan bersama 10-12 jam. Sementara pada penguapan bertekanan tinggi menggunakan suhu 65-95 oC dengan suhu 40-55 oC berlangsung selama 10-16 jam. Sebelum curing beton dilaksanakan, suhu beton harus dipertahankan sekitar 10-30 oC selama beberapa jam.

Metode curing dengan penguapan sangat berguna dalam proses perawatan beton di daerah yang mempunyai musim dingin. Metode perawatan ini wajib diikuti dengan perawatan pembasahan setelah lebih dari 24 jam yakni minimal selama umur 7 hari. Hal ini dilakukan supaya kekuatan tekan beton bisa tercapai sesuai rencana pada umur 28 hari.

CURING DENGAN MEMBRAN

Membran yang dipakai untuk pekerjaan perawatan beton di sini adalah membran penghalang fisik untuk mencegah terjadinya penguapan air. Bahan yang digunakan harus kering dalam waktu maksimal 4 jam atau sesuai final setting time. Membran ini membentuk selembar film yang berkelanjutan, melekat dan tidak bergabung, tidak beracun, tidak selip, bebas dari lubang-lubang halus, serta tidak membahayakan beton.

Membran yang digunakan juga bisa berupa lembaran plastik atau lembaran bahan lain yang bersifat kedap air secara efisien. Perawatan beton dengan menggunakan membran ini sangat berguna untuk mendukung pekerjaan perawatan beton pada lapisan perkerasan beton (rigid pavement). Metode ini harus dilakukan secepat mungkin setelah waktu pengikatan beton. Metode perawatan beton dengan membran juga dapat dilaksanakan sebelum atau sesudah metode perawatan beton dengan pembasahan dilaksanakan.

CURING DENGAN METODE LAINNYA

Metode perawatan beton yang lainnya bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan sinar infra merah. Metode ini dilakukan dengan penyinaran beton memakai sinar infra merah pada suhu 90 oC selama 2-4 jam berturut-turut. Metode ini biasanya diterapkan untuk mempercepat terjadinya penguapan air pada beton yang berkualitas tinggi.

Selain penggunaan sinar infra merah, perawatan beton (curing) juga dapat dilakukan menggunakan metode perawatan hidrotermal dan perawatan karbonisasi. Pelaksanaan metode ini dilakukan melalui pemanasan cetakan beton, khususnya untuk beton pracetak, selama 4 jam berturut-turut menggunakan suhu 65 oC.