Lifestyle
May23

Tips Mengelola Sampah dengan Bijak

sampah-menjadi-sedekahjpg

Sampah kian hari menjadi masalah yang semakin serius dan menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan, bilamana tidak ditangani secara benar. Berbagai kota di Jawa Tengah mengalami hal yang sama dengan sampah ini, bahkan sebagian besar kota-kota tersebut justru terpuruk citranya karena tidak dapat menangani problem sampah yang semakin komplek dari hari ke hari.

Prasarana dan sarana yang ada makin tidak mampu mengimbangi produksi sampah atau timbunan sampah dihasilkan oleh masyarakat. Sedangkan dana operasional untuk pengelolaan sampah di berbagai kota masih sangat minim. Namun demikian masyarakat sebagai penghasil dan produsen sampah justru antipati dan tidak mau tahu bagaimana dan kemana sampah ini dibuang.

Fenomena ini terjadi karena masyarakt masih menganggap sampah sebagai barang yang sudah tidak berguna, sumber penyakit dan sarang kecoa sehingga harus dibuang jauh-jauh dari lingkungannya. Lebih-lebih banyak masyarakat yang masih menganggap sampah adalah barang yang menjijikkan, bau dan kotor, sehingga harus dilenyapkan agar tidak mengganggu lingkungan dan kesehatan. Memang benar adanya bahwa sampah tidak hanya menimbulkan dampak terhadap lingkungan fisik saja tetapi juga berdampak pada lingkungan non-fisik seperti kehidupan sosial masyarakat.

Sebahagian besar tempat pembuangan sampah yang ada di kota-kota saat ini telah menimbulkan persoalan lingkungan dan degradasi lingkungan seperti penurunan kualitas air tanah dan kualitas udara tetapi juga menimbulkan konflik sosial antara warga dan pemerintah dalam hal ini operator persampahan karena berbeda kepentingan dan juga pemahaman. Penolakan masyarakat terhadap TPA sampah baru menjadi sebuah potret bahwa masyarakat tidak mau hidup berdampingan dengan sampah.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa masyarakat dewasa ini masih antipati terhadap sampah dan berpandangan sempit akibat pemahaman yang kurang dan belum membuka hatinya. Dalam pengelolaan sampah dengan paradigma baru dijelaskan bahwa sampah perlu diolah atau dikelola sedekat mungkin dari sumbernya yaitu masyarakat dan tidak lagi terfokus pada pembuangan sampah ke TPA. Hal inilah yang belum banyak dipahami oleh masyarakat dan kurang adanya sosialisasi yang cukup intens dari berbagai pihak yang berkepentingan.

Oleh sebab itu persoalan sampah memang tidak bisa diselesaikan dari aspek hilirnya saja yaitu dengan pendirian TPA atau tempat pengolahan sampah sejenis, tetapi harus dilakukan melalui pendekatan hulu juga yaitu melalui upaya penyadaran individu masyarakat untuk turut serta membantu mengelola sampah yang diproduksinya oleh lingkungan terkecilnya.

Menurut penulis, sampah sebenarnya bisa menjadi barang yang berdaya guna dan memiliki potensi yang cukup signifikan bila dikelola dan diolah dengan baik sedemikian rupa. Gagasan penulis mungkinkah sampah menjadi sedekah memang terkesan aneh bagi sebagian masyarakat. Namun bukan tidak mungkin hal ini bisa menjadi kenyataan. Dari potensi sampah yang dikelola secara baik dan bijak akan menghasilkan sedekah-sedekah atau menghasilkan daya guna dan bernilai bagi mereka yang memang membutuhkannya.

Sampah sudah seharusnya menjadi tanggungjawab bersama masyarakat. Mengingat setiap anggota masyarakat memiliki andil yang besar dalam memproduksi sampah di dalam kehidupannya, baik sampah yang bersifat organik maupun sampah yang an-organik. Setiap individu dalam masyarakat sesungguhnya bertanggungjawab terhadap sampah yang diproduksinya, sehingga sampah tidak berdampak buruk bagi kehidupan dan lingkungannya. Setiap individu sudah sepantasnya dan sudah seharusnya berperilaku bijak dalam memperlakukan sampah dengan mengelola sampah itu sendiri dan tidak membuang sampah yang dihasilkannya di sembarang tempat yang pada akhirnya akan berdampak buruk dan mengganggu kehidupan ekosistem makhluk hidup di sekitarnya.

Mengelola sampah dengan bijak dan membuang sampah ke tempat yang telah disediakan merupakan salah satu perbuatan baik dan bisa menjadi sebuah sedekah apabila sampah tersebut sengaja dipilah-pilah dan dikelola untuk digali potensinya lebih dalam yang pada akhirnya memiliki nilai ekonomi dan dapat memperdayak warga yang memang membutuhkan rupiah-rupiah dari hasil pengelolaan sampah.

Dengan demikian sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sudah seharusnya dianggap sebagai benda yang berharga dan bermanfaat apabila dikelola dengan baik dan bijak. Namun kenyataan yang terjadi saat ini masih banyak masyarakat yang menganggap sampah sebagai musti yang harus dijauhi dan diperangi, yang pada akhirnya banyak individu menyia-nyiakan sampah begitu saja bahkan tidak sadar dan tidak jarang justru mematikan potensinya.

Dalam kehidupat masyarakat, menghanyutkan sampah ke sungai atau drainase saluran air sudah bukan barang baru lagi. Sampah pada akhirnya akan mencemari sungai dan menyumbat saluran drainase air yang berakibat banjir dan gangguan kesehatan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat masih menjadi kebiasaan buruk warga kota dan menjadi potret buruk perilaku masyarakat. Bahkan kebiasaan membakar sampah yang dianggap cara paling ampuh dalam memerangi sampah masih sering dilakukan. Padahal perilaku ini sebenarnya hanya memindahkan wujud sampah padat menjadi gas-gas dan partikel berbahaya di udara yang dispersi atau penyebarannya lebih luas dibandingkan sampah padat.

Perilaku di atas menunjukkan bahwa penahanan masyarakat terhadap sampah masih sangat rendah meskipun tingkat intelektual dan jenjang kependidikannya sudah cukup tinggi. Sampah belum dilirik sebagai barang atau sumberdaya yang memiliki nilai cukup tinggi bila diolah dan didayagunakan secara bijak.

Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat akan menjadi barang berharga bila dapat dipisahkan sejak dihasilkanny. Nilai sedekah mulai muncul saat masyarakat menjadi lebih cerdas dengan memilah sampahnya, karena masih bisa melihat potensi dari sampah itu sendiri. Sampah yang sudah dipilah sebenarnya merupakan bahan baku atau raw materials yang sudah dinantikan oleh perusahaan yang akan memanfaatkan sampah tersebut untuk didaur ulang terutama sampah an-organik.

Perusahaan plastik akan membutuhkan sampah plastik, perusahaan logam akan membutuhkan kaleng-kaleng logam, perusahaan kaca akan membutuhkan sampah kaca dan beling, demikian juga perusahaan kertas juga sudah semestinya memerlukan bahan dasar kertas-kertas bekas, kardus bekas, dan lain-lain. Sedangkan untuk sampah organik dari rumah untuk diolah menjadi pupuk atau kompos juga sangat potensial.

Dilihat dari karakteristiknya, sampah an-organik yang disebut di atas dapat dikumpulkan dan dijual ke perusahaan melalui pengepul sehingga bisa berdaya guna dan sampah tersebut memiliki harga yang disesuaikan dengan standar harga pasaran. Oleh sebab itu, setiap individu dalam aplikasi teknisnya setidaknya menyediakan kantong sampah atau tempat sampah yang berbeda-beda agar mempermudah untuk pengumpulan sampah ke pengepul. Masyarakat yang mengelola sampah dengan baik, benar dan bijak tidak hanya berdampak pada pelestarian ekosistem makhluk hidup, tetapi kegiatan yang dilakukannya dalam mengelola sampah dapat dijadikan sebagai sumber kebaikan dengan menjadikannya sebagai media sedekah.

Sedekah sampah ini bisa dilakukan oleh individu atau komunitas masyarakat yang tinggal di suatu kawasan RT/RW. Setiap individu bisa memulai menjadi pemberi sedekah dengan memisahkan sampahnya. Masyarakat juga bisa membentuk semacam pengelola sampah yang bertanggungjawab dan bertugas mengambil sampah dari rumah tangga untuk dikumpulkan terlebih dahulu atau langsung dijual ke pengepul sampah yang tersebar di banyak tempat. Dari penjualan sampah tersebut sudah barang tentu hasilnya untuk dana perbaikan dan pembangunan desa, kegiatan sosial keagamaan, beasiswa, dan sebagainya.

Diharapkan dari kegiatan sedekah sampah ini, masyarakat memiliki kekuatan ekonomi sosial dan tidak hanya tergantung dari bantuan pemerintah semata. Maka daripada itu sudah semestinya gerakan sedekah sampah ini perlu disosialisasikan lebih luas dan menjadi salah satu iku dalam menangani sampah di perkotaan di Jawa Tengah.