Lifestyle
Sep2

Sejarah Perkembangan Arsitektur Islam dari Masa ke Masa

Penasaran dengan sejarah perkembangan arsitektur islam dari masa ke masa? Arsitektur islam adalah suatu arsitektur atau hasil usaha manusia yang memiliki wujud kongkrit sebagai pemenuh atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Perkembangan arsitektur islam sangatlah luas meliputi bangunan tempat tinggal dan bangunan keagamaan. Di antaranya istana, benteng, masjid, kuburan, bak pemandian umum, air mancur, dan lain-lain.

Konsep pemikiran arsitektur islam bersumber dari Al Quran, Hadits, Keluarga Nabi, Khalifah, Ulama, dan Cendikiawan Muslim. Dalam pembangunannya, arsitektur ini memegang faktor fisik dan faktor metafisik. Maksud faktor fisik yaitu wujud fisik arsitektur harus sesuai dengan ajaran agama islam. Sedangkan, faktor metafisik berarti arsitektur mampu membuat penghuninya untuk bertakwa kepada Allah SWT, menjamin penghuninya merasa aman dan nyaman, serta mendorong pemiliknya untuk senantiasa bersyukur.

Adapun ciri-ciri dari arsitektur islam yaitu :

  1. Arsitektur mempunyai ornamen yang senantiasa mengingatkan penghuninya kepada Allah SWT
  2. Arsitektur tidak mengandung ornamen yang bergambar makhluk hidup utuh
  3. Interior arsitektur ditata untuk menjaga perilaku dan akhlak yang baik
  4. Arsitektur biasanya dihiasi warna-warni alami yang mendekatkan kepada Allah SWT
  5. Pembangunan arsitektur bukan bertujuan untuk riya atau sombong
  6. Toilet tidak boleh menghadap dan atau membelakangi kiblat
  7. Keberadaan arsitektur bangunan tidak berdampak negatif bagi orang lain
  8. Pendirian arsitektur tidak merusak lingkungan alam

sejarah-perkembangan-arsitektur-islam.jpg

Masjid Istiqlal, Jakarta

Perkembangan Arsitektur Islam

Perkembangan arsitektur islam pertamakali ditandai dengan berdirinya Masjid Juatha di Arab Saudi. Tokoh yang mempopulerkannya adalah Khilafah Rashidun yang memerintah pada tahun 632-661. Berikutnya pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah di tahun 661-750, arsitektur islam merupakan perpaduan dari arsitektur bergaya barat dan arsitektur bergaya timur. Yang paling populer yaitu kombinasi arsitektur byzantium dan arsitektur sassanid. Arsitektur Umayyah ini banyak memainkan cat dinding, mosaik, relief, termasuk ditambahkannya mihrab ke dalam masjid yang seolah-olah kini menjadi standar desain masjid di dunia.

Ketika Khalifah Abbasiyah berkuasa pada (750-1513), pengaruh arsitektur sassanid dan arsitektur khas asia tengah kental sekali dalam arsitektur islam. Masjid-masjid pun diperluas dan dilengkapi dengan courty yard. Beberapa arsitektur peninggalan Khalifah Abbasiyah antara lain Masjid Al-Mansur di Baghdad, Masjid Samarra di Irak, dan Masjid Balkh di Afganistan.

Masuknya agama islam di Afrika Utara, salah satunya ditandai dengan berdirinya Masjid Agung Cordoba yang dipengaruhi arsitektur moorish. Kekhasan arsitektur moorish terletak pada penggunaan pola-pola geometris yang tegas. Pengaruh arsitektur ini juga menyebar luas sampai ke Spanyol dengan dibangunnya istana dan benteng Alhambra bergaya moorish. Warna-warna yang tren meliputi emas, merah, dan biru dengan ornamen berbentuk dedaunan. Bangunan-bangunan peninggalan islam di masa ini di antaranya bangunan Bab Merdum di Toledo dan Gerbang Lengkung Media Azahara.

Arsitektur islam juga banyak dipengaruhi oleh kebudayaan persia. Hal ini disebabkan kedekatan hubungan antara khalifah islam dengan kekaisaran persia terutama pada abad ke-7. Bahkan bisa dikatakan bahwa desain arsitektur islam merupakan perkembangan dari arsitektur persia. Ciri khas dari masjid yang bergaya persia yakni adanya lengkungan bangunan yang ditopang oleh pilar-pilar, pilar menggunakan batu bata, dan taman yang luas di sekeliling masjid. Kebudayaan hindu sempat mempengaruhi arsitektur islam di Asia Timur dan Asia Tenggara, namun akhirnya pengaruh arsitektur persia ini mendominasi hampir semua bangunan yang berarsitektur islam.