Lifestyle
Sep29

6 Penyebab Kegagalan Menjual Rumah Lewat Listing Online

penyebab-kegagalan-menjual-rumah.jpg

Apa saja penyebab kegagalan saat menjual rumah lewat listing online? Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin maju juga media yang bisa digunakan untuk mempromosikan rumah. Jika dulu orang biasanya membuat penawaran di koran dan majalah, saat ini masyarakat jauh lebih tertarik memasarkannya lewat internet karena lebih cepat, lebih mudah, dan gratis.

Sebagai salah satu media listing online di Indonesia, Arafuru akan berbagi penyebab-penyebab suatu iklan rumah sepi peminatnya. Di antaranya :

1. Melampirkan Foto Berkualitas Rendah

Kesalahan paling sering dilakukan pengiklan adalah melampirkan foto yang berkualitas rendah. Mungkin bagi anda yang bertindak sebagai penjual, kualitas foto ini tidak berpengaruh apapun. Namun bagi calon pembeli, mereka akan kesulitan mengetahui bagaimana bentuk aslinya rumah yang anda tawarkan. Jika mungkin, hindarilah mengambil foto dengan kamera HP, apalagi kamera yang tidak dilengkapi dengan fitur canggih. Gunakan kamera jenis DSLR agar anda tampak profesional.

2. Jumlah Foto yang Dilampirkan Terlalu Sedikit

Rata-rata orang yang membuat listing online akan melampirkan foto sebanyak tiga buah. Malahan ada yang berani coba-coba menampilkan hanya satu foto saja. Padahal jumlah foto ini akan berpengaruh langsung terhadap minat calon pembeli. Semakin banyak ruangan yang bisa mereka ketahui, semakin yakin juga mereka untuk membeli rumah tersebut.

3. Pemakaian Kata yang Sangat Buruk

Kalimat yang anda gunakan pada listing online merupakan perwakilan dari ucapan anda. Jika anda memakai kalimat menarik yang mampu menjual, tentu pengaruhnya kepada calon pembeli akan sangat besar. Sebaliknya, penggunaan kata-kata yang buruk dan typo seringkali mengakibatkan calon pembeli enggan menggali lebih jauh rumah yang anda jual. Beberapa contoh kata yang harus dihindari misalnya dijual cepat, butuh dana segera, dijual murah, atau anda akan untung besar. Alih-alih membuat pembeli tertarik, kalimat ini malah akan menimbulkan pertanyaan baru, mengapa penjual berani menawarkan rumahnya dengan iming-iming ini?