Furnitur
Oct3

6 Macam Finishing Kayu yang Sering Digunakan

Apakah macam-macam finishing kayu yang sering digunakan? Rumah tinggal kurang lengkap rasanya apabila tidak diisi furniture yang mendukung fungsi dan kegunaannya. Di antara berbagai jenis furniture yang ada, furniture kayu masih menjadi primadona oleh para konsumen khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan furniture kayu bersifat evergreen atau abadi. Furniture ini bisa dikombinasikan dengan gaya apa pun dan desain bagaimana pun berkat sifat fleksibilitas yang dimilikinya. Jadilah furniture kayu sebagai pilihan nomor satu.

Furniture kayu dibuat dengan menyatukan potongan-potongan kayu yang telah diukur dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu perabotan yang utuh. Setelah itu, seluruh bagian furniture tersebut akan diampelas supaya permukaannya halus dan rata. Selanjutnya dilakukan pengecekan kembali terhadap semua sudut furniture apakah sudah bagus atau belum. Bagian celah-celah, retak, serta berlubang wajib ditambal terlebih dahulu menggunakan dempul agar rata. Barulah kemudian dilakukan proses finishing.

Pada dasarnya, finishing pada furniture kayu tidak hanya berguna untuk memperindah tampilannya, tetapi juga melindungi furniture tersebut dari serangan luar seperti hama dan perubahan cuaca. Furniture yang telah diberikan finishing menjadi lebih awet dan tahan lama sebab kekuatannya meningkat drastis. Namun tidak dapat disangkal kalau proses finishing ini akan berpengaruh besar terhadap hasil akhirnya. Bagus tidaknya suatu furniture salah satunya ditentukan oleh keterampilan seorang tukang kayu dalam mengaplikasikan finishing.

Tahukah Anda? Setidaknya terdapat enam macam finishing kayu yang biasa digunakan oleh para pengrajin di Indonesia, antara lain :

Jenis 1. Nitrocellulose (NC)

Nitrocellulose (NC) adalah bahan finishing kayu yang terbuat dari resin alkyd. Kemudian agar cepat mengering, resin tersebut dicampur dengan solven atau thinner. Finishing menggunakan nitrocellulose mampu menghasilkan tampilan kayu yang natural. Hal tersebut dikarenakan finishing ini mampu meresap langsung ke pori-pori kayu tanpa membuat lapisan film yang menutupi serat. Oleh karena itu, metode finishing memakai nitrocellulose paling banyak diterapkan pada pembuatan ukiran-ukiran yang memiliki detail rumit.

Biasanya penerapan bahan finishing nitrocellulose dilakukan melalui teknik penyemprotan. Nitrocellulose ini disemprotkan ke arah kayu dari jarak 30-40 cm dengan gerakan nak turun dan searah. Bisa dikatakan kalau prosesnya lumayan rumit dan membutuhkan keterampilan yang tinggi. Sebaliknya bila dikerjakan secara asal-asalan, hasil finishing dari nitrocellulose ini tidak terlalu bagus. Hal ini pula yang membuat harga furniture yang menggunakan finishing nitrocellulose lumayan mahal. Kini finishing ini sering dimanfaatkan pada furniture modern minimalis untuk menghilangkan kesan kaku.

Jenis 2. Melamine (ML)

Melamine (ML) merupakan bahan finishing kayu yang paling banyak digunakan oleh para pengrajin di Indonesia, khususnya untuk furniture yang akan dijual di pasar dalam negeri. Alasannya karena harga finishing yang satu ini paling murah di antara bahan yang lainnya. Meskipun begitu hasil akhir dari penggunaan melamine ini tidak kalah. Melamine mampu melapisi permukaan kayu dengan sempurna dan menutupi pori-porinya dengan sangat baik sehingga mampu menciptakan kesan modern dan mahal.

Penggunaan finishing kayu dengan melamine terutama diaplikasikan pada furniture-furniture berbahan kayu jati. Furniture yang diberi finishing berupa melamine mudah dikenali. Jika permukaannya terbentur oleh benda keras, maka lapisan finishing-nya akan mengelupas. Sehingga perawatannya pun harus dilakukan sebaik mungkin. Kekurangan lain dari finishing melamine ialah mengandung formaldehyde yang cukup tinggi. Namun dengan penggunaan yang baik dan benar serta memperhatikan keselamatan kerja, dampak buruk formaldehyde terhadap lingkungan bisa diminimalisir.

macam-finishing-pada-kayu.jpg

Jenis 3. Polyurethane (PU)

Polyurethane (PU) tergolong bahan finishing kayu yang paling mahal. Tetapi harga tersebut sebenarnya sangatlah wajar mengingat hasil penerapan finishing polyurethane dapat membuat funiture yang indah sekali. Lapisan film yang dibentuk oleh bahan ini cukup tebal sehingga tidak gampang tergores atau terkelupas saat terbentuk oleh benda-benda yang keras. Kelebihan lainnya ialah polyurethane mempunyai ketahanan yang sangat baik terhadap sinar ultraviolet dan air.

Oleh karena itu, polyurethane biasanya diaplikasikan pada furniture-furniture kayu yang berada di lingkungan luar ruangan (outdoor). Misalnya seperti pintu, jendela, dan kusen. Furniture yang telah dilapisi oleh finishing ini akan memiliki daya tahan yang tinggi dari sinar matahari dan air hujan yang menerpanya. Lapisan finishing yang terbentuk pun sulit sekali mengelupas. Hasilnya yaitu furniture-furniture milik Anda akan terjaga keawetan dan keindahannya dalam jangka waktu yang lama.

Jenis 4. Pelitur

Anda mungkin tahunya semua furniture kayu pasti diberikan pelitur sebagai finishing-nya? Tenang Anda tidak sendirian kok. Faktanya ada banyak sekali orang awam di luar sana yang masih menganggap kalau warna cokelat mengkilap pada permukaan furniture kayu selalu dihasilkan oleh pemakaian pelitur. Sampai saat ini pelitur memang masih menjadi bahan finishing kayu yang paling populer. Meskipun pada kenyataannya tidak semua kayu diberikan pelitur sebagai finishing.

Sebenarnya apa sih pelitur itu? Pelitur adalah finishing kayu yang berbahan dasar shellac. Pelitur terbentuk dari sublimasi kayu cemara dan damar yang diencerkan menggunakan alkohol atau spiritus melalui metode tertentu. Itulah kenapa, warna pelitur begitu jernih dan agak kecokelat-cokelatan. Bahan finishing pelitur sangat difavoritkan oleh sebagai besar penggemar kayu karena mampu memberikan hasil tampilan yang mengkilap, basah, atau berminyak. Penerapan pelitur dilakukan dengan mengoleskannya memakai kain yang halus.

Jenis 5. Natural Oil

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan bahan-bahan alami dapat digunakan sebagai finishing kayu dan hasilnya sangat bagus. Salah satunya yakni natural oil alias minyak alami yang didapatkan dari tumbuh-tumbuhan. Minyak alami yang terkandung di dalam pinus dan jati kini banyak digunakan sebagai finishing kayu partikel. Hasilnya adalah tampilan kayu partikel/serbuk tadi menjadi kelihatan menyerupai papan jati atau papan pinus. Hal ini terbukti cukup efektif dalam menaikkan harga jual papan partikel/serbuk tersebut.

Jenis 6. Waterbase

Isu mengenai global warming terus memaksa para peneliti untuk menemukan bahan finishing kayu baru yang benar-benar ramah terhadap lingkungan. Setelah melalui serangkaian uji coba yang sangat panjang, akhirnya terciptalah sebuah bahan finishing kayu yang bersifat waterbase. Benar sekali, finishing waterbase ini tersusun atas air yang begitu banyak, baik pigmen warna maupun pengencernya. Akhir-akhir ini finishing waterbase sangat populer digunakan oleh para pengrajin kayu di Eropa dan Amerika.