Desain
Oct20

Mengagumi Desain Rumah Adat Bali

desain-rumah-adat-bali.jpg

Rumah Adat Bali menjadi bagian dari khasanah bangunan di Indonesia. Secara keseluruhan, penataan desain rumahnya bisa dibilang unik karena terdapat aturan-aturan tertentu yang harus ditaati ketika mendirikan suatu bangunan. Selain itu, ornamen-ornamen tradisional juga banyak menghiasi interior dan eksterior rumah dan bangunannya.

Pembangunan rumah adat di Bali harus disesuaikan dengan aturan-aturan “Asta Kosala Kosali” yakni sebuah ajaran yang ada di dalam kitab weda, sebagai kita suci agama hindu. Pada prinsipnya, aturan-aturan ini hampir mirip seperti ilmu feng shui yang berasal dari kebudayaan china. Aturan-aturan inilah yang tumbuh dan berkembang menjadi sebuah filosofi bagi masyarakat bali itu sendiri.

Masyarakat bali percaya bahwa pembangunan rumah akan menciptakan kesejahteraan hidup apabila berhasil menciptakan keharmonisan di dalam “Tri Hita Karana” yang mencakup 3 aspek. Adapun aspek-aspek utama tersebut antara lain :

  1. Aspek Pawongan, aspek ini mencakup pada orang-orang yang akan menempati rumah tersebut
  2. Aspek Pelemahan, aspek ini mencakup lokasi, tempat, dan lingkungan pembangun rumah
  3. Aspek Parahyangan

Bangunan arsitektur tradisional di Bali selalu dipenuhi ornamen-ornamen penghias berupa ukiran dan semacamnya. Pewarnaan yang digunakan pun lebih memilih warna-warna yang kontras dan alami. Uniknya, setiap warna yang digunakan merupakan simbol ungkapan perasaan tertentu kepada Sang Pencipta.

Selain rumah sebagai tempat tinggal, Bali juga memiliki bentuk arsitektur lain di antaranya :

  • Pura yaitu suatu bangunan tempat suci agama hindu dan berfungsi sebagai tempat beribadah dan menyelenggarakan ritual keagamaan
  • Banjar yaitu suatu bangunan yang berukuran besar dan luas, berfungsi sebagai balai pertemuan
  • dan lain-lain

Contoh Penataan Desain Bangunan Sebagai Hunian

Pada zaman dulu, rumah adat bali dibangun secara terpisah menjadi beberapa bangunan kecil yang disatukan dengan pagar. Seiring bergulirnya waktu, bangunan pun sudah tidak lagi dibangun secara terpisah-pisah.

Seperti yang sudah diungkapkan di atas, penataan bangunan rumah pada kebudayaan bali berpedoman pada konsep Tri Hita Karana. Sudut utara-timur dianggap sebagai tempat yang suci sehingga digunakan sebagai pemujaan atau pamerajan. Sudut barat-selatan dianggap sebagai sudut terendah sehingga digunakan sebagai jalur keluar masuk rumah.

Pada pintu masuk rumah, terdapat suatu tembok yang dinamakan “aling-aling”. Tembok ini tidak hanya sebagai partisi saja, tetapi juga dipercaya sebagai penolak pengaruh kejahatan. Adapun angkul-angkul (gerbang utama) ini secara desain mirip seperti gerbang utama di dekorasi rumah modern.

Pada bagian antara angkul-angkul dan rumah, terdapat lumbung padi (jineng) dan dapur (pawon). Kemudian ada bangunan bale tiang sangah, bale sikepat, dan bale sekenam yang merupakan suatu bangunan terbuka tanpa adanya tembok luar. Tidak lupa ada juga bangunan umah meten sebagai kamar tidur kepala keluarga atau anak gadis. Bangunan ini juga mempunyai fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga. Terakhir adalah natah yaitu sebuah taman yang terletak di tengah-tengah komplek bangunan sebagai tempat menjalankan segala aktifitas di rumah.